Tampilkan postingan dengan label SMK N 1 ROTA BAYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMK N 1 ROTA BAYAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Mei 2012


Profil Sekolah SMK N 1 ROTA Bayat PDF Cetak Surel
Nama Sekolah : SMK Negeri 1 ROTA Bayat
NSS : 661031004105
NPSN : 20357317
Nomor SK Sekolah : 421.5/788.B/11
Tanggal SK Sekolah : 21 Juli 2011
Nama Sekolah Sebelum SK : SMK Negeri 1 Bayat
Alamat Sekolah/ Telp :


- Jalan : Jl. Raya Bayat - Cawas


- Desa : Beluk


- Kecamatan : Bayat


- Kabupaten/ Kodya : Klaten


- Kotak Pos : 57462


- Email : smkn1bayat@yahoo.co.id


- Website : http://smkn1-rotabayat.sch.id


- Telepon : (0272) 3120800


- Faksimili : (0272) 3140310
Status Sekolah : Negeri
Bidang/ Program Keahlian :


- Kria Tekstil/Batik : Belum Terakreditasi


- Kria Keramik : Belum Terakreditasi
Kelembagaan : dipersiapkan SBI
Manajemen : Adopsi SMM ISO 9001 :  2000
Luas Tanah : 28.915 m2
Luas Bangunan : 9.250 m2
Status Tanah : Milik Sendiri
Status Bangunan : Permanen
Data Siswa :



Fasilitas sekolah


a. Ruang Teori/ Kelas : 12 Ruang
b. Ruang Praktik Tekstil /Batik : 1 Ruang
c. Ruang Praktik Keramik : 1 Ruang
d. Laboratorium Komputer : 1 Ruang
e. Laboratorium Bahasa Inggris : 1 Ruang
f. Ruang Perpustakaan Multimedia : 1 Ruang
g. Busines Center /Toko : 1 Ruang
h. Ruang Ibadah : 1 Ruang
i. Ruang Guru : 1 Ruang
j. Ruang Tata Usaha : 1 Ruang
k. Ruang UKS : 1 Ruang
l. Ruang BK : 1 Ruang
m. Ruang Serba Guna : 1 Ruang
n. Ruang Kantin : 1 Ruang
o. Guest House : 1 Ruang
p. Showroom : 1 Ruang
Kurikulum : KTSP
Guru :



Kapala Sekolah :


Nama Kepala Sekolah : Drs. Supardi


NIP : 19580817 198203 1 031
SK. Pengangkatan : Nomor : 821.2/09/10
Bupati Klaten
Tanggal : 13 Januari 2010
TMT SK : 13 Januari 2010



 

Senin, 09 April 2012

SMK 1 Rota Bayat Angkat Sentra Kerajinan Bayat




SEMARANG-Lulusan SMK selalu dipersiapkan untuk bekerja. Tetapi kini selain siap bekerja, mereka juga harus dapat menciptakan lapangan kerja sendiri dengan berwirausaha. Seperti halnya SMK Negeri 1 ROTA Bayat Klaten yang menyiapkan siswanya untuk mengembangkan sentra batik dan keramik.

Sekolah yang berdiri tahun 2009 atas bantuan gempa dari Pemerintah Qatar melalui Titian Foundation dan bekerja sama dengan Pemkab Klaten ini, dibangun untuk mengangkat sentra kerajinan daerah tersebut. SMK Negeri 1 ROTA Bayat memiliki dua jurusan, yaitu KRIA TEKSTIL dan KRIA KERAMIK.

‘’Memang sengaja hanya dua jurusan, karena fokus yang hendak dikembangkan adalah kerajinan tersebut dan pasti menonjolkan ciri khas tersendiri,’’ ujar guru Kriya Tekstil (Batik), Putri Novianti,Ssn di sela-sela pameran di stan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng.

Berbagai kerajinan seperti batik dan keramik yang dipamerkan di ajang JATENG FAIR 2010 mencoba menyuguhkan teknik dan cara membatik atau membuat keramik kepada pengunjung. Ciri khas dari Batik Bayat yang motifnya diciptakan oleh siswa SMK ini adalah gambar binatang dengan pecahan tanah kering sesuai kontur tanah di sana.

Putri menjelaskan, di jurusan Kria Tekstil mengajarkan 60% cara pembuatan batik dan 40% keteknikan lain seperti tenun, rajut, dan jahit. Sementara jurusan Kria Keramik menggunakan teknik putaran miring yang menghasilkan keramik dalam bentuk tipis dengan kualitas yang lebih unggul.

sumber :

DIES NATALIS SMKN 1 ROTA BAYAT

Dies Natalis ke-2 SMK Negeri 1 ROTA Bayat

Lapangan hijau yang biasanya terpapar teriknya matahari itu kini terlindung oleh deklit hijau yang berdiri kokoh diatasnya.  Ratusan kursi ditata begitu rapinya menghadap kearah GSG. Ruangan yang dulunya begitu luas itu kini bertahta sebuah panggung dengan hiasan bunga-bunga cantik dari gelas aqua. Disekelilingnya terdapat kursi tamu undangan yang berhadapan dengan Gamelan jawa. Sementara pada Background kita dapat mengetahui bahwa segala kemegahan itu ada untuk memeriahkan ulang tahun sekolah SMK N 1 ROTA Bayat yang kedua.

Ya. Pada tanggal 17 Desember 2011 SMK telah menginjak usia yang relatif masih muda. 2 tahun. Dan telah kita ketahui bersama bahwa meskipun usianya masih muda, SMK jurusan seni yang berdiri di Beluk ini telah menorehkan berbagai  prestasinya.

Acara tersebut dibuka oleh iringan gending-gending jawa dari kelompok siswa karawitan. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tari Gambyong sebagai simbolisasi sambutan kepada para hadirin. Pemotongan Tumpeng sebagai  simbolisasi ulang tahun dilaksanakan oleh kepala sekolah, Bp. Supardi. Jika pada ulang tahun pertama potongan tumpeng pertama diserahkan kepada Bp. Suwarno maka pada ulang tahun kedua ini potongan tumpeng pertama diserahkan kepada kepala Tata Usaha yaitu Bp. Kadarisman.



Sesuai dengan tema yang diangkat, “Go Green For Our Dreams”  selain menggunakan hiasan dari benda-benda daur ulang, dalam acara Dies Natalis terdapat acara penulisan mimpi-mimpi di pohon harapan oleh para siswa. Dilanjutkan oleh sambutan dari Mas dan Mbak Klaten sebagai tamu undangan.

Acara ulang tahun sekolah dimeriahkan oleh penampilan-penampilan yang menarik seperti pertunjukan pencak silat dari pemenang Ajang RMB yaitu Edi dan Indra kelas X. Alunan syahdu dari grup TIVO, atraksi-atraksi dari Tekwondo, Fashion Show dengan gebrakan busana Koran, serta yang tak kalah menarik guru SMK N 1Rota Bayat ikut tampil diwakili oleh Bp. Aris. Penampilan yang spektakuler juga disajikan oleh Mas dan Mbak Klaten yang  menyajikan Fashion Show .

Acara juga dimeriahkan oleh beberapa Band yang tampil, seperti  Band kelas Xll, Band Visionist, band Kelas Xl K2, Band All Refans, serta Java Young.

Acara yang begitu mempesona tersebut ditutup dengan dangdut hingga jam 4 sore. Segala kenangan, prestasi yang gemilang, kebersamaan dalam tawa tersaji untuk SMK N 1 ROTA Bayat tercinta.

SEKOLAH SENI

SMKN 1 ROTA Bayat, Klaten

 

Berkeliling di Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 yang berlangsung di di JCC Senayan 6-10 Juli yang baru lewat, memunculkan kembali rasa optimis akan negeri ini. Kaum muda menunjukkan kreativitas mereka yang beragam, meyakinkan masa depan negeri ini tak akan suram. Mereka membawa perubahan dan perubahan sedang terjadi sekarang. Beberapa universitas atau kreatif muda profesional bahkan sekolah kejuruan ikut serta dalam ajang ini. Antara yakin dan berharap cemas kreativitas mereka juga merambah dalam wujud batik membawa @batikIDku pada kekaguman akan corak batik indah dengan pewarna alam yang digantung-gantung mencolok pada stan mereka. Ternyata stan ini milik SMKN 1 ROTA Bayat dari Klaten, Jawa Tengah.
Mereka menyediakan canting dan malamnya untuk pengunjung yang ingin mencoba proses awal membatik. Setelah anak-anak SMKN 1 Bayat ini membuatkan pola dengan pensil pada sehelai kecil kain, maka pengunjung dapat merasakan sendiri melekatkan malam dengan canting pada kain berpola tersebut. Menarik bukan? Karya batiknya yang cantik dan penyajian stan yang unik ternyata baru sedikit dari fakta potensi sekolah kejuruan ini. Pak Daliya, pengajar jurusan Kriya Tekstil SMKN 1 menceritakan keberhasil sekolah ini pada ajang nasional yaitu Student Company Fair di Plaza Semanggi 25-26 Juni 2010 sebagai ‘The Most Active and Best Performing Student Company’ Student Company diaplikasikan pada materi pengajaran kewirausahaan di sekolah kejuruan ini. Dengan nama perusahaan pelajar SAKURA mereka membuktikan dapat menghasilkan keuntungan yang sehat juga mendapatkan penghargaan atas pengelolaan hadiah uang yang mereka dapat (berita lengkapnya dapat dilihat pada tautan ini)
Batik tulis tangan dengan pewarna kimia karya siswa SMKN 1 ROTA Bayat
Sekolah menengah kejuruan yang didirikan di tengah sentra pengrajin batik dan keramik di tahun ajaran baru 2009 yang lalu, awalnya kurang mendapat sambutan positif masyarakat setempat yang enggan menyekolahkan anak mereka ke sekolah kejuruan ini, takut hanya bernasib sama saja dengan ortu mereka sebagai pengrajin batik dan keramik. Namun tak hanya prestasi Student Company di ajang nasional tetapi posisi terbaik ke-dua Internasional disabet juga oleh SMKN 1 Bayat ini yang diwakili Ines Wardani dan tim kecilnya dalam kategori Company Fair di FIE (El Foro Internacional De Emprendedores/ International Forum of Entrepreneurs) Mei 2011 lalu di Cordoba, Argentina.  Ajang internasional ini diwakili 12 negara (berita lengkapnya dapat dilihat pada tautan berikut)
Batik tulis tangan dengan pewarna alam karya siswa SMKN 1 ROTA Bayat
Prestasi gemilang di usia yang baru menginjak 2 tahun tak lepas dari arsitek-arsitek hebat pendiri dan pengarah sekolah kejuruan ini. Didirikan atas kerjasama Depdiknas, pemerintah setempat, ROTA (Reach Out To Asia), Qatar Foundation dan Titian Foundation, memiliki visi ‘menjadi SMK bertaraf internasional dan center of excellence dalam bidang batik dan keramik di Indonesia dengan menghasilkan lulusan yang terampil dan memiliki citarasa seni tinggi sehingga mampu bersaing di pasar internasional’. Jurusan Keramik dibina langsung oleh ahli keramik dari Jepang, Profesor Kawasaki yang sangat tertarik metoda putar miring dalam pembuatan keramik yang satu-satunya di dunia ini hanya ditemukan di Bayat, Klaten.
Batik Cap kombinasi tulis
Sasaran Jurusan Kriya Tekstil sendiri adalah : membekali siswa ketrampilan teknik dan pengetahuan seni tekstil berfokuskan pada seni batik, mencetak siswa yang mampu menopang industri tekstil daerah dan nasional, dan yang terakhir menyadarkan bahwa seni tekstil terutama batik yang merupakan warisan adiluhung bangsa Indonesia memerlukan peran aktif dalam usaha pelestariannya.
Sekolah yang diawali dengan 2 kelas per jurusan (total 4 kelas) masing-masing dengan 32 siswa per kelas, kini siap menyambut angkatan baru di tahun ke-tiga nya dan juga melepas lulusan tahun pertamanya. Di tahun pertama, siswa jurusan kriya batik wajib ikut menorehkan canting pada Sketsa Budaya Bangsa yang merupakan sketsa dalam batik kain panjang yang saat ini sudah mencapai 140 meter. Pak Daliya pengajar dengan segudang keahlian  dan filosofi mendalamnya merupakan lulusan SSRI (kini SMSR) tahun ‘86. Beliau melanjutkan ke IKIP Yogyakarta mengambil Program Studi senirupa dengan tugas akhir Lukis. Filosofi batik telah dikuasainya berkat pengalaman mengajar batik sejak ‘94 di SMKN 1 Kalasan sampai sekarang. Beliau pernah menyabet Penghargaan Pratita Adikarya terbaik batik sandang di Pendopo SMSR Jogja tahun ’86.
Ragam corak yang dipamerkan
Menurut Pak Daliya, siswa Kelas 1 fokus pada pengetahuan motif batik tradisional klasik nusantara. Kelas 2 pada filosofi batik. Kelas 3 pengembangan ciri khas motif kreasi sendiri. Dalam uraian pendeknya lulusan SMKN 1 Bayat ini diharapkan siap kerja, siap berwiraswasta, dan ke tiga untuk menyiapkan siswa yang tertarik melanjutkan pendidikan ke universitas.  Melalui Student Company yang kemudian masuk dalam kurikulum, siswa diminta untuk membuat proposal kewirausahaan untuk mendapatkan modal dari 2 juta sampai dengan 8 juta rupiah.
Impian Pak Daliya untuk mendirikan Monumen Canting Terbesar yang menaungi lab batik terbesar dan menjadi pusat riset batik dan keramik berskala Internasional. Beliau menutup obrolan dengan filosofinya :
Batik cap kombinasi tulis
Dengan Ilmu hidup lebih mudah,
Dengan Seni hidup jadi indah,
Dengan I

Batik 70 Meter, Masterpice SMKN 1 Rota Bayat

Rifa Nadia Nurfuadah
Senin, 28 Juni 2010 18:09 wib
 0  00
Daliya di depan Sketsa Budaya Bangsa (foto: Rifa/okezone)
Daliya di depan Sketsa Budaya Bangsa (foto: Rifa/okezone)
JAKARTA - Biasanya, program kompetensi yang dibuka pada suatu sekolah menengah kejuruan (SMK) tergantung pada potensi alam daerah tersebut. Di daerah Jawa Tengah, banyak SMK memasukkan keahlian batik sebagai kompetensi kajiannya.

Seperti yang terdapat pada SMKN 1 Rota Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Program kompetensi batik di SMK tersebut telah mampu menghasilkan produk-produk berkualitas yang punya daya jual. Produk-produk ini mereka tampilkan dalam Pameran Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2010 di Jakarta Convention Center, pekan lalu.

"Selama dua hari pameran pendapatan kami telah mencapai Rp20 juta," klaim Guru SMKN 1 Rota, Bayat, Klaten, Jawa Tengah Daliya kepada okezone di sela-sela pameran.

Daliya menambahkan, selain produk-produk komersial, SMKN 1 Rota, Bayat, sedang mempersiapkan satu karya yang akan menjadi masterpiece mereka. Karya ini diberi nama Sketsa Budaya Bangsa.

Sketsa Budaya Bangsa merupakan satu karya batik tulis yang dikerjakan oleh siswa kelas 1 SMKN 1 Rota, Bayat. Mereka membuat lukisan tentang berbagai kehidupan sosial di Indonesia seperti kehidupan para petani, nelayan, pedagang, peternak, dan lainnya. Selama tiga bulan pengerjaannya, karya ini sudah mencapai panjang 70 meter.

"Kami harap, dengan dukungan banyak pihak karya ini akan terus dikembangkan hingga lebih panjangnya, bahkan kalau mungkin menjadi tidak terhingga," papar Daliya.

Daliya juga berharap, karya ini bisa masuk daftar Museum Rekor Indonesia (MURI) atau bahkan tercatat di buku rekor dunia. Dia mengklaim, karya SMKN 1 Rota, Bayat, ini adalah yang pertama di Indonesia, bahkan dunia.(rhs)

SMKN 1 ROTA Bayat Raih Juara ke-3 Student Company Competition 2011



Kompetisi tahunan Student Company (SC) Competition 2011 akhirnya dimenangkan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 26 Jakarta. Juara kedua diraih SMAN 1 Bogor, Jawa Barat dan ketiga direbut SMKN 1 ROTA Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Sementara kategori penampilan terbaik didapat SMKN 1 ROTA Bayat Klaten, dan kategori Profil Video Perusahaan Favorit diraih SMKN 26 Jakarta, serta pemenang Business Solution Challenge diperoleh SMKN 8 Jakarta.

Menurut Direktur Prestasi Junior Indonesia (PJI) Robert Gardiner, belum lama ini, lomba tersebut dimaksudkan untuk mengasah kemampuan siswa dalam berwirausaha. Kompetisi yang keempat kalinya ini mengikutsertakan perusahaan siswa (SC) sebanyak 12 sekolah menengah atas (SMA/SMK).

Dalam kompetisi itu, setiap perusahaan siswa bersaing untuk menjual produk mereka kepada pengunjung mal. Selain menjual produk, Robert menambahkan, sejumlah siswa juga mengikuti kompetisi dalam beberapa kategori, yaitu presentasi bisnis, kreativitas seni, tantangan bisnis dan video profil perusahaan.

"Pengalaman ini merupakan pembelajaran wirausaha langsung yang sangat berharga bagi siswa sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri guna meraih cita-citanya", ujar Robert.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional, Tbk Haryono Tjahjarijadi, optimistis lomba tersebut dapat membentuk jiwa wirausaha muda Indonesia. Ia pun berharap para peserta bisa menjadi pebisnis sejati yang bertanggungjawab sehingga mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia.

Rencananya, pemenang terbaik lomba Student Competition yang bekerjasama dengan American Chamber of Commerce (AmCham) Indonesia dan PT Bank Mayapada Internasional tersebut akan mewakili Indonesia dalam beberapa event internasional. Termasuk, kegiatan Asia Pacific Student Company of the Year Competition pada bulan Januari 2012 mendatang.
berita serupa : http://berita.liputan6.com/read/346201/

SMKN 1 ROTA MELAHIRKAN KENZO-KENZO DARI BAYAT

SMKN 1 ROTA, Melahirkan Kenzo-Kenzo dari Bayat
HERU SRI KUMORO/KOMPAS IMAGESSiswa SMKN 1 ROTA, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, praktik membuat keramik dengan teknik putaran miring di sekolah, Kamis (17/12/2009).
Oleh: Sri Rejeki
"Buruh batik hanya tahu mendapat upah Rp 10.000. Padahal, dengan 'booming' batik, seharusnya mereka bisa dapat lebih dari itu."
-- Lily Kasoem/Ketua Yayasan Titian
KLATEN, KOMPAS.com — Serombongan perempuan dan laki-laki mengenakan busana paduan dari kain batik dan tenun tangan. Kain batik atau tenun dijadikan rok selutut atau semata kaki, lalu dipadukan dengan selendang batik atau tenun yang digunakan untuk menutup bahu dan disimpul membentuk pita di depan dada. Sungguh unik dan etnik.
Mereka membawa kain batik panjang dengan motif flora karya sendiri yang dibentangkan sambil berlenggak-lenggok di atas panggung. Karya para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 ROTA yang terletak di Desa Beluk, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, ini mengingatkan Lily Kasoem akan Kenzo—perancang busana kenamaan asal Jepang—yang tinggal di Paris, Perancis, dan selalu memasukkan ciri khas negaranya pada karya-karyanya.
Menurut pemilik usaha Lily Kasoem Optical ini, anak-anak dari Bayat ini pun bisa menjadi Kenzo-Kenzo di masa depan. Sarana untuk membantu anak- anak dari pelosok Bayat meraih mimpinya ini telah disediakan berupa sekolah yang representatif.
SMKN 1 ROTA, dilihat dari fisik gedungnya, tidak kalah dari sekolah internasional yang ada di kota-kota besar. Ruang kelas berkondisi nyaman dengan banyak jendela besar membuat kelas terang dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Fasilitas pun lengkap.
Sekolah yang membuka dua jurusan ini, yakni tekstil dan keramik, menyediakan dua bengkel kerja. Di bengkel kerja keramik, siswa dapat praktik membuat keramik dengan teknik putaran tegak maupun miring yang menjadi ciri khas Bayat.
Profesor Chitaru Kawasaki, yang bertahun-tahun meneliti teknik putaran miring Bayat karena hanya satu-satunya di dunia ini, siap mendampingi siswa setelah didapuk sebagai guru tamu. Teknik pewarnaan, dekorasi gerabah, dan pembakaran dengan tungku tradisional juga dipelajari siswa di bengkel kerja ini.
Karya siswa yang baru empat bulan belajar membuat gerabah sederhana tampak dipajang di salah satu sudut bengkel kerja. Di bengkel kerja tekstil, para siswa terlihat asyik membuat desain dan gambar. Ada pula yang belajar membatik dengan canting dan malam serta mewarnai.
Mesin jahit dan obras terpasang, menunggu giliran untuk mengantar para siswa belajar memodifikasi kain karya mereka menjadi busana. Contoh karya berupa kain panjang (jarik) dan selendang batik serta contoh busana terpajang di beberapa sudut ruangan. Karya terbaik dipamerkan di galeri komersial.
Bukan tanpa sebab jika SMKN 1 ROTA membuka dua jurusan yang unik ini. Jurusan keramik bahkan satu-satunya di Kabupaten Klaten. Potensi Bayat sebagai pusat perajin batik tulis dan gerabah meyakinkan pihak donor untuk membuka dua jurusan yang sesuai dengan potensi lokal.
"Di Bayat sudah banyak buruh batik dan keramik. Kita tak perlu lagi menambah jumlah mereka. Anak-anak yang bersekolah di SMKN 1 ROTA ini yang nanti akan menggunakan sumber daya manusia yang ada untuk keuntungan masyarakat karena akan memotong jalur tengah atau makelar. Buruh batik hanya tahu mendapat upah Rp 10.000. Padahal, dengan booming batik, seharusnya mereka bisa dapat lebih dari itu," kata Lily, yang juga Ketua Yayasan Titian yang menjadi mitra Reach Out to Asia (ROTA) di Indonesia.
ROTA adalah salah satu divisi dari Qatar Foundation yang dimiliki keluarga Kerajaan Qatar yang khusus mengurusi program di Asia. ROTA akan menggelontorkan 3 juta dolar Amerika Serikat atau kurang lebih Rp 28,5 miliar untuk pembangunan gedung sekolah dan fasilitasnya, mendatangkan guru-guru tamu, serta pengembangan kurikulum hingga tiga tahun ke depan. Setelah itu diharapkan SMKN 1 ROTA dapat mandiri lepas landas mencapai cita-citanya memajukan pendidikan dan kehidupan anak-anak di pelosok Bayat.
Selain memberi bekal keterampilan, siswa-siswi SMKN 1 ROTA dibekali pengetahuan kewirausahaan, bahasa Inggris, dan teknologi informasi agar tidak hanya menjadi jago kandang, melainkan mampu pula bersaing di pasar global. Oleh karena itu, laboratorium bahasa dan komputer dengan fasilitas sangat memadai serta perpustakaan dengan 1.500 judul buku dan koleksi audio visual siap mengantarkan para siswa agar tidak ”kuper” menghadapi pergaulan global.
Dengan berbagai program penunjang ini, siswa diharapkan kelak mampu menghasilkan karya seni batik dan keramik yang artistik dan bernilai ekonomis tinggi. Mereka diharapkan menjadi pencipta, bukan sekadar menjadi tukang. Para siswa pun dengan lugas mengatakan bercita-cita menjadi wirausaha, seperti Indriani Asta (15) yang ingin menjadi pengusaha batik.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, yang menghadiri peresmian sekolah ini akhir Desember 2009 lalu berharap, pihak lain melalui program corporate social responsibility (CSR)-nya dapat berlomba melakukan hal serupa untuk memajukan pendidikan anak-anak, khususnya di Jawa Tengah. Pembangunan SMKN 1 ROTA disebutnya contoh bagus kerja sama Pemerintah Kabupaten Klaten, yang menyediakan lahan hampir 3 hektar, dengan ROTA dan Titian.
Direktur ROTA Omnia Nour berharap, SMKN 1 ROTA tidak hanya menjadi sekolah biasa, melainkan pusat unggulan (center of excellence) batik dan keramik dengan dukungan fasilitas yang lengkap dan guru-guru yang kompeten. Pembangunan SMKN 1 ROTA sekaligus ingin menunjukkan bahwa pendidikan adalah hak untuk semua. Anak desa pun tidak kalah dari anak kota jika memiliki akses pendidikan yang sama.