Program
peremajaan yang sedang dan akan terus dilanjutkan di Indonesia sebagai
upaya meningkatkan produksi tanaman kelapa akan lebih berhasil jika
memberikan jaminan peningkatan pendapatan bagi petani. Dengan
menerapkan teknologi jarak tanam dan sistem tanam baru kelapa dengan
berwawasan tanaman campuran (polikultur). Dari hasil pengujian lapangan
bahwa Usaha tani polikultur secara agronomi tidak mengganggu
pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa. Selanjutnya secara ekonomi
usaha tani semacam ini justru meningkatkan pendapatan petani dibanding
dengan usaha tani kelapa monokultur.
Pengusahaan tanaman sela diantara tanaman kelapa
dapat memperbaiki aerasi tanah sehingga dapat memperbaiki sistem
perakaran kelapa dan meningkatkan produksi buah kelapa (Setyamidjaya,
1994). Dewasa ini sistem tumpang gilir (panen berganda, multiple
cropping) dianggap dapat dilakukan pula dibawah tanaman kelapa yang
telah menghasilkan. Tumpang gilir terutama terutama dianjurkan untuk
mengatasi terjadinya akibat yang tidak menguntungkan karena naik
turunnya harga kelapa yang sulit diramal. Pertimbangan lain
dilakukannya penanaman berganda (terutama pada perkebunan takyat)
adalah untuk menyerap tenaga kerja, sebagai pengendalian gulma,
konservasi lahan, memperbaiki sifat-sifat tanah, dan menambah produksi.
Setyamidjaya, (1994) menyebutkan bahwa tanaman sela jagung dengan kelapa rakyat di Minahasa, Sulawesi Utara dapat menurunkan biaya rata-rata produksi dan menambah keuntungan usaha tani. Program sistem pertanian terpadu berbasis kelapa adalah untuk meningkatkan efisiensi dan pemanfaatan lahan dipertanaman kelapa pada satu luasan dan waktu tertentu. Untuk memperoleh hasil yang baik dari tanaman pokok (kelapa) maupun tanaman sela, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tersedianya tenaga kerja, keadaan tanah dan iklim, pemasaran hasil dan umur tanaman kelapa yang bersangkutan. Persiapan lahan Lahan yang digunakan pada kegiatan ini adalah lahan peremajaan kelapa yang tua atau rehabilitasi kelapa. Kegiatan yang dilakukan penebangan kelapa yang sudah tua kemudian lahan dibersihkan dari pohon kelapa, ranting-ranting dan gulma. Melakukan pengajiran untuk membuat jarak tanam kelapa 12 m x 12 m. Diantara tanaman kelapa direncanakan akan ditanami kakao sebagai tanaman tumpang sari. Pembuatan lubang dilakukan setengah bulan sebelum penanaman kelapa, dengan ukuran panjang, lebar, dan dalam 50 cm x 50 cm x 50 cm. Satu minggu sebelum penananam kelapa dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang pada lubang tanam yang sudah disiapkan dengan dosis pupuk kandang 1/5 zak ukuran 50 kg pupuk per lubang. Dalam memanfaatkan lahan diantara tanaman kelapa yang masih kosong akan ditanami dengan tanaman jagung manis. Penanaman jagung manis dilakukan tanpa olah tanah (TOT). Lahan dibersihkan dari gulma dan ranting yang ada serta gulma, selanjutnya dibuat barisan tanaman jagung dengan arah timur barat dengan jarak tanam 75 cm x 25 cm. Tanah langsung ditugal dengan menggunakan alat tugal. Setiap lubang tugalan diberi pupuk kandang dari kotoran sapi sebanyak satu genggam. Penanaman Tanaman kelapa ditanam pada tanggal 21 Februari 2009 dengan jarak tanam 12 m x 12 m dengan jumlah tanaman 42 pohon dengan jumlah 7 baris arah timur barat dan 6 baris utara selatan. Varietas kelapa yang ditanam adalah unggul lokal Kabupaten Hulu Sungai Selatan – Kalimantan Selatan. Pada saat tanam setiap lubang diberi pupuk SP 36 dengan dosis 2 sendok makan setiap lubang. Gambar 1: Tanaman jagung varietas Bonanza F1umur 30 hari di tanam di BBPP Binuang Tanaman jagung manis yang ditanam varietas Bonanza F1 yang diproduksi PT East West Seed Indonesia yang memproduksi benih tanaman cap Panah Merah. Varietas jagung Bonanza F1 mempunyai keunggulan : Tanaman seragam, tongkol seragam berpotensi 2 tongkol/tanaman, Warna bulir kuning, rasa manis dan lembut, bobot tongkol 270 – 500 gram untuk konsumsi segar, panen pada umur 63 hari setelah tanam, potensi hasil 13 – 15 ton/ ha (Anonim,2008). Penanaman jagung dilakukan pada tangal 16 April 2009. Penanaman dilakukan pada tanah yang telah ditugal dan diberi pupuk kandang. Setiap lubang ditanam satu benih jagung manis Bonanza F1. Bersamaan menutup tanah dilakukan pemupukan dengan pupuk campuran SP 36 dan Urea dengan dosis 1/2 sendok makan yang diberikan dengan cara dicampur tanah yang akan digunakan untuk menutup lubang penanaman. PembumbunanBenih jagung mulai tumbuh empat hari setelah tanam yaitu pada tanggal 20 April 2009. Pembumbunan segera dilakukan pada tanaman umur 15 hari setelah tanam yang sekaligus mengendalikan gulma disekitar tanaman. Pembumbunan sangat diperlukan untuk memperbaiki aerasi tanah dan menghindari tananam rebah. Pembumbunan dan pengendalian gulma disekitar tanaman dilakukan secara bersama-sama terutama sebelum dilakuakan pemupukan pada tanaman. Sedangkan pengendalian gulma diantara barisan tanaman jagung dan piringan kelapa dilakukan dengan herbisida secara berkala apabila gulma kelihatan lebat dengan herbisida Gramoxone yang di Produksi PT Sygenta Indonesia. Pemupukan Pemupukan jagung pertama pada saat tanam dengan pupuk SP 36 dan urea dengan dosis 1/3 sendok makan yang diberikan dengan cara dicampur tanah yang akan digunakan untuk menutup lubang penanaman Gambar 2. Tanaman jagung Varietas Bonanza F1 yang sudah mulai berbuah. Pemupukan kedua tanaman jagung pada umur 15 hari dengan pupuk urea dan KCl dengan dosis 1 sendok makan yang diberikan disebelah utara dan selatan pada barisan tanaman jagung yang sekaligus digunakan untuk pembubumbunan dan pengendalian gulma disekitar tanaman jagung. Pemupukan ke tiga dilakukan pada umur tanaman 35 hari dengan pupuk Urea dan KCl dosis 1 sendok yang diberikan di sebelah timur dan barat tanaman atau didalam barisan tanaman yang sekaligus pembumbunan dan mngendalikan gulma. Pemupukan tanaman kelapa dilakukan pada umur 15 hari setelah tanam dengan campuran pupuk urea dan KCl dengan dosis 1/3 kg per pohon yang diberikan secara melingkar disekeling tanaman. Penjarangan tongkol Tanaman jagung yang sudah mengeluarkan tongkol selalu diperiksa apabila ditemukan satu batang tanaman jagung mengeluarkan 3 tongkol maka satu tongkol yang paling kecil segera dibuang (dapat dimanfaatkan sebagai sayur). Sedangkan tanaman yang mengeluarkan tongkol satu atau dua tongkol dibiarkan tumbuh menjadi tongkol dewasa yang dapat dipanen. Pengendalian hama penyakit Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kelapa dan jagung yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara berkala dikebun bila terjadi serangan hama dan penyakit. Pencegahan tanaman jagung pada umur 15 hari setelah tanam disemprot dengan Alika 247 ZG yang diproduksi PT Syngenta Indonesia. Selama penanaman kelapa dan jagung ini tidak terjadi adanya serangan hama dan penyakit yang berarti. Panen Tanaman jagung manis varietas Bonanza F1 dapat dipanen apabila tongkol jagung sudah berisi penuh dan besarnya sudah maksimal. Pada jagung varietas Bonanza F1 dipanen pada tanggal 22 Juni 2009 atau 68 hari setelah tanam. Panen dilakukan dengan cara memilih tanaman yang sudah berisi penuh dan besarnya sudah maksimal kemudian dipetik dengan menggunakan tangan. Pemanen dilakukan secara bertahap sampai tanggal 26 Juni 2009. Gambar 3. Tongkol jagung varitas Bonanza F1 yang panjangnya bisa sampai 25 cm Pemasaran jagung manis di Kalimantan Selatan Khususnya Binuang tidak menjadi masalah karena pedagang langsung ke kebun jagung. Luas lahan yang ditanami jagung manis di lahan Balai Besar Pertanian Binuang Kalimantan Selatan seluas panjang 72 m dan lebar 12 m = 864 m dengan hasil tongkol 1.455 tonggkol dengan harga antara Rp. 1000 - Rp. 1.100 = Rp. 1.526.000,-(satu juta lima ratus dua puluh enam ribu rupiah) rincian seperti pada tabel 1 dibawah ini. Tabel 1. Waktu panen, produksi dan harga jual jagung manis.
Kalau dikonversi ke satu ha 10.000 m : 864 m = 11,574 m. Dalam 1 ha dapat menghasilkan tonggkol 1.455 x 11,574 = 16.840 tonggkol dengan asumsi harga per tonggkol Rp 1.000 sehingga total hasil kotor yang diperoleh = Rp. 16.840.000,-(enam belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah). Setelah tanaman jagung dipanen pertumbuhan kelapa yang ada tanaman sela jagung manis menunjukkan pertumbuhan yang sama baiknya dengan tanaman kelapa yang tidak ada tanaman jagungnya. DAFTAR PUSTAKA. Anonim. 2008. Brosur Bonanza F1. PT East West Seed Indonesia. Purwakarta-Jawa Barat. Setyamidjaja.D.1994. Bertanam kelapa. Kanisisus. Yogyakarta. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 17 February 2011 ) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 April 2012
BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG
Budidaya Jagung di Lahan Bawah Tanaman Kelapa
MAKANAN KHAS KOTA JOGJA
Sejarah Gudeg

Gudeg bagi sebagian orang asli Yogyakarta, yang lahir sebelum era kemerdekaan, seperti Mbah Pawiro Wiyono (75 tahun), petani buta huruf warga Desa Tlogoadi Kecamatan Mlati merupakan lauk pauk yang sudah dikenalnya sejak kecil. Nasi gudeg, demikian ia menyebut makanan tradisional masyarakat Yogyakarta yang terus eksis hingga sekarang. Mbah Pawiro menyebut gudeg sebagai makanan dari gori (nangka muda) yang rasanya manis tapi gurih, karena tambahan bumbu arehnya (santan kental) dan ampas minyak kelapa (klendo) yang lezat. Ditambah lauk pauk lainnya seperti tahu, sambal krecek dan daging ayam. Artinya, lelaki tua ini hanya mengenal gudeg basah. Kalau begitu, kapan orang Yogya mengenal gudeg kering yang relatif lebih awet dan tahan lama?
Gudeg, bukan berasal dari dalam lingkungan Kraton Yogyakarta. Namun merupakan makanan tradisional masyarakat. Gori atau nangka muda, adalah bahan baku utama gudeg yang lebih umum dikenal. Sebab di masa lalu, bahan baku ini sangat mudah diperoleh di kebun-kebun milik masyarakat Yogyakarta. “Walaupun ada pula bahan lainnya seperti manggar (pondoh kelapa), karena dulu batang pohon kelapa kerap dijadikan bahan bangunan dan jumlahnya banyak, tidak seperti sekarang. Selain itu ada pula gudeg dari rebung (anakan pohon bambu), tapi yang ini sekarang amat langka dibuat gudeg. Di jaman dulu orang Yogya hanya mengenal satu jenis gudeg, yakni gudeg basah. Gudeg kering dikenal setelahnya, sekitar 57-an tahun dari saat sekarang ini. Hal ini setelah orang-orang dari luar Yogya mulai membawanya sebagai oleh-oleh. Keuntungannya, gudeg pun tumbuh sebagai home industry makanan tradisional di Yogya.ketika kami membahas kemungkinan makanan ini merupakan bekal berperang bagi pasukan Sultan Agung saat menyerbu Batavia, ternyata juga tidak tepat dianggap demikian. Apalagi tak ditemukan adanya literatur yang menyebutkan hal ini. Seperti disebut di bagian awal, di masa lalu orang Yogya belum mengenal gudeg kering yang biasa ditaruh di besek atau kendil, serta awet dibawa ke luar kota. “Pada penyerbuan pertama ke Batavia di tahun 1726-1728, pasukan Sultan Agung kalah. Setelah dibahas bersama para penasihat dan panglima perangnya, kekalahan pasukannya karena banyak yang mati dan lelah akibat kelaparan. Kesimpulannya, pasukan mereka butuh beras untuk tetap kuat sampai ke Batavia, ketika menceritakan kembali penyerbuan itu, berdasarkan literatur yang dibacanya. Lalu akhirnya pada penyerbuan pasukan Sultan Agung yang kedua kalinya, dibuatlah daerah-daerah logistik di kawasan Pantura. Dari sinilah muncul wilayah yang disebut Batang, Brebes, Bumiayu dan lainnya, yang menjadi lumbung beras bagi pasukannya. “Soal lauk pauknya apa, ya apa yang dapat dimasak di daerah logistik tersebut. Tidak harus gudeg, apalagi belum ada gudeg kering. Selain itu berdasarkan informasi dari abdi dalem Kraton Yogyakarta yang sudah sepuh, menu gudeg tidak berasal dari dalam istana. Tidak seperti stup jagung, yang memang dari istana karena menjadi klangenan salah satu sultan,” lanjut Herman. Tentu saja penuturan ini bukanlah sebuah akhir dari suatu diskusi tentang sejarah gudeg. Sebab siapa tahu, ada yang dapat menjelaskan lebih baik lagi. Misalnya, mengapa di dekat lingkungan Kraton Yogyakarta (kawasan Benteng di Jln. Wijilan) ada banyak penjual gudeg? Apa kaitannya dengan kraton?
GAMELAN JAWA
Gamelan Jawa
Februari 9th, 2012, posted in budaya jawa, falsafah Jawa, musik jawa
Gamelan Jawa
adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang,
gendang, dan gong. Musik yang tercipta pada Gamelan Jawa berasal dari
paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik
umumnya lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sebagaimana prinsip
hidup yang dianut pada umumnya oleh masyarakat Jawa.

Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut:
Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda. Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.
Tidak ada kejelasan tentang sejarah terciptanya alat musik ini. Tetapi, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu – Budha mendominasi Indonesia. Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetap ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana.
Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).
Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.
Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).
Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.
Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup “orang jawa” pada umumnya.
Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalu “memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak”. Oleh sebab itu, “orang jawa” selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu “sléndro”, “pélog”, ”Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.
Gamelan yang lengkap mempunyai kira-kira 72 alat dan dapat dimainkan oleh niyaga (penabuh) dengan disertai 10 – 15 pesinden dan atau gerong. Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam. Alat-alat lainnya berupa kendang, rebab (alat gesek), gambang yaitu sejenis xylophon dengan bilah-bilahnya dari kayu, dan alat berdawai kawat yang dipetik bernama siter atau celepung.
Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.
Pada umumnya alat-alat musik yang terdapat dalam perangkat Gamelan terdiri dari:
3. Gong, terdiri dari:
Masing-masing dari alat-alat musik (perangkat) tersebut diatas memiliki fungsi-fungsi khusus yang saling mengisi dan melengkapi sehingga menciptakan harmonisasi antara satu sama lain. Setiap alat musik sudah memiliki pakem yang tertuang dalam phatet (pembatasan wilayah nada).
sumber :
http://wonojoyo.com/sejarah-gamelan-jawa/
http://tengkoraksakti.blogspot.com/2010/05/gamelan-jawa-sejarah-dan-misteri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan_Jawa
http://www.scribd.com/doc/27559092/PERANGKAT-GAMELAN-JAWA
Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut:
- Kendang
- Bonang
- Bonang Penerus
- Demung
- Saron
- Peking (Gamelan)
- Kenong & Kethuk
- Slenthem
- Gender
- Gong
- Gambang
- Rebab
- Siter
- Suling
- Kempul
Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda. Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.
Tidak ada kejelasan tentang sejarah terciptanya alat musik ini. Tetapi, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu – Budha mendominasi Indonesia. Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetap ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana.
Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).
Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.
Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).
Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.
Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup “orang jawa” pada umumnya.
Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalu “memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak”. Oleh sebab itu, “orang jawa” selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu “sléndro”, “pélog”, ”Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
- Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu : 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.
- Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu : 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.
Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.
Gamelan yang lengkap mempunyai kira-kira 72 alat dan dapat dimainkan oleh niyaga (penabuh) dengan disertai 10 – 15 pesinden dan atau gerong. Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam. Alat-alat lainnya berupa kendang, rebab (alat gesek), gambang yaitu sejenis xylophon dengan bilah-bilahnya dari kayu, dan alat berdawai kawat yang dipetik bernama siter atau celepung.
Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.
Pada umumnya alat-alat musik yang terdapat dalam perangkat Gamelan terdiri dari:
1. Counter-Melody, adalah alat-alat musik yangterdiri atas:
- Gambang, adalah alat yang menyerupai instrument metallophone, tetapi bilah-bilahnyaterbuat dari kayu atau tembaga.
- Suling, adalah alat musik tiup yang biasanya terbuat dari bambu. Dibedakan atas dua tipe: 1)suling dengan lima lubang (finger-holes) untuk laras Pelog; 2) suling dengan empat lubanguntuk laras slendro
- Rebab, adalah alat musik gesek yang dapat menghasilkan suara cukup keras
- Siter atau Celempung, adalah alat petik sejenis gitar tetapi memiliki senar yang lebih banyak.
- Bedug, adalah alat musik tabuh yang terbuat dari sepotong batang kayu besar yang telahdilubangi bagian tengahnya sehingga menyerupai tabung besar. Pada ujung batang yangberukuran besar ditutup dengan kulit binatang (biasanya kulit sapi, kerbau atau kambing).Bedug menimbulkan suara berat, rendah, tapi dapat didengar sampai jarak yang jauh.
- Kendang, adalah alat musik tabuh menyerupai bedug tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil.Kendang biasanya dimainkan oleh pemain gamelan profesional. Kendang dapat dibagimenjadi empat berdasarkan ukuran dari yang terbesar sampai yang terkecil: KendangGending, Kendang Wayangan, Kendang Ciblon, dan Kendang Ketipung.
Gong yang digantung. Dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:
- Gong Ageng, adalah gong terbesar dalam Gamelan Jawa dan dipercaya sebagai“roh” dalam Gamelan. Oleh karena itu, gong ini sangat dihormati. Biasanya GongAgeng ditempatkan di belakang Gamelan.
- Kempul, adalah gong gantung yang memiliki ukuran lebih kecil dari Gong Ageng.
Gong yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkai kayu (tempat yang terbuatdari kayu ini kadang disebut “Rancakan”). Dapat dibedakan dalam 4 (empat) jenis gong,yaitu:
1. Bonang,
adalah satu set gong yang terdiri dari sepuluh sampai empat belas gong-gong kecil dengan posisi horizontal yang
tersusun dalam dua deretan.
Ada duamacam Bonang, yaitu:
- Bonang Barung, yaitu Bonang berukuran sedang, beroktaf tengah sampaitinggi
- Bonang Panerus, yaitu Bonang berukuran kecil tetapi titi nadanya lebih tinggisatu oktaf dibandingkan Bonang Barung.
2. Kenong, adalah gong terbesar yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkaikayu. Dalam beberapa Gamelan, satu bingkai kayu dapat berisi 3 (tiga) Kenong
3.Ketuk dan Kempyang. Adalah gong-gong yang diletakkan di sebelah Kenong. Ketuk danKempyang selalu ditempatkan dalam sebuah kotak kayu.
4. Metallophones,
adalah alat-alat musik berbentuk bilahan / lempengan yang terdiri dari enam tautujuh bilah, ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Alat-alat musikini dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
a. Saron, terdiri atas:
- Saron Demung, yaitu alat musik dengan bilahan paling besar dalam keluarga Sarondan menghasilkan nada rendah. Titi nada Saron Demung lebih rendah satu oktaf dibanding Saron Barung. Saron Demung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe:Demung Slendro dan Demung Pelog.
- Saron Barung. Dibandingkan dengan Saron Demung & Saron Panerus, SaronBarung memiliki bilahan logam menengah (medium). Titi nadanya satu oktaf lebihrendah dari Saron Panerus dan satu oktaf lebih tinggi dari Saron Demung. SaronBarung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe: Barung Slendro dan Barung Pelog.
- Saron Panerus atau seringkali disebut dengan julukan Peking. Ini merupakankeluarga Saron yang paling kecil. Dibandingkan Saron Barung, Saron Panerusmemiliki titi nada lebih tinggi satu oktaf. Saron Barung juga dapat dibedakan dalam 2(dua) tipe: Panerus Slendro dan Panerus Pelog
b. Gender, adalah alat musik yang terdiri dari bilah-bilah metal yang ditegangkan dengan tali.
Gender dapat dibedakan menjadi:
Gender dapat dibedakan menjadi:
- Slentem, adalah alat musik dengan bilah metal dan resonator terbesar dalamkeluarga gender. Biasanya Slentem memiliki tujuh bilah dan memiliki titi nada satuoktaf dibawah Saron Demung
- Gender, terdiri atas:
- Gender Barung. Gender Barung memiliki bilah metal dengan ukuran sedangdalam keluarga Gender. Gender Barung memiliki titi nada satu oktaf lebihrendah dari Gender Panerus.
- Gender Panerus. Gender Panerus memiliki bilah-bilah yang paling kecildalam keluarga Gender. Gender Panerus memiliki titi nada satu oktaf lebihtinggi daripada Gender Barung
sumber :
http://wonojoyo.com/sejarah-gamelan-jawa/
http://tengkoraksakti.blogspot.com/2010/05/gamelan-jawa-sejarah-dan-misteri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan_Jawa
http://www.scribd.com/doc/27559092/PERANGKAT-GAMELAN-JAWA
Ragam Budaya Indonesia – Artikel Kebudayaan Indonesia – Seni Budaya Indonesia
ONDEL-ONDEL, SEBUAH KARYA DARI BUMI BETAWI
Meskipun sudah banyak yang mengenal Ondel-ondel, namun nyatanya tak banyak orang yang mengetahui bagaimana pembuatan Ondel-ondel serta apa makna dari Ondel-ondel itu sendiri. Terlebih dengan kemajuan zaman dan teknologi, Ondel-ondel semakin tergerus oleh kemajuan zaman.
Ondel-ondel itu sendiri adalahsemacam boneka raksasa yang merupakan salah satu bentuk pertunjukan rakyat betawi yang seringkali ditampilkan pada pesta-pesta rakyat. Biasanya Ondel-ondel berukuran besar sekitar 2,5 meter dan dibuat secara berpasangan. .Ondel-ondel menggunakan bahan baku berupa bambu yang dibentuk sebagai rangka boneka. Selain rangka, yang harus dibuat adalah topeng. Topeng tersebut terbuat dari bahan fiber glass. Ondel-ondel juga dipasangkan pakaian yang dibuat seperti pakaian khas betawi.
Berhubung Ondel-ondel dibuat sepasang, yakni laki-laki dan perempuan maka untuk membedakannya wajah Ondel-ondel laki-laki biasanya di cat merah dan yang perempuan di cat putih. Pembuatan Ondel-ondel biasanya terbagi atas beberapa tahapan seperti bagian bawah, pinggang, leher, bahu, serta topeng.
Pada tradisi betawi, biasanya Ondel-ondel digunakan sebagai penolak bala atau mengusir roh jahat dengan cara diarak keliling kampung. Bahkan ada ritual memberi minum air kelapa hijau atau kopi pahit serta rokok ataupun telur ayam kampung sebagai sesaji kepada leluhur. Cara memberi minuman kepada Ondel-ondel yakni dengan menaruhkannya dalam kerangka tubuh Ondel-ondel.
Meskipun populer dengan nama Ondel-ondel namun dahulu masyarakat betawi menyebutnya Barongan yang berasal dari kata Barengan yang artinya bareng-bareng atau bersama-sama. Mengarak Ondel-ondel pun harus lengkap dengan musik pengiring. Alat musik pengiringnya biasanya tabuhan kenong, kemong dan gendang. Biasanya musik pengiring memainkan lagu-lagu betawi seperti Lenggang Kangkung, Kicir-Kicir, atau Sirih Kuning. Terkadang diiringi juga dengan kesenian bela diri khas betawi yakni pencak silat. Saat ini pelaksanaannya pun beragam, seperti mengarak Ondel-ondel dengan alat musik tanjidor atau gambang kromong.
Seiring dengan waktu, Ondel-ondel semakin jarang ditampilkan sebagai instrumen kebudayaan. Saat ini, orang lebih banyak menggunakan Ondel-ondel sebagai instrumen pariwisata. Itupun banyak dilakukan oleh institusi pemerintahan terkait atau pusat perbelanjaan. Waktunya pun hanya bisa dijumpai pada acara-acara perayaan pekan kebudayaan. Selain itu pengrajin Ondel-ondel juga semakin menyusut. Padahal dengan melestarikan Ondel-ondel berarti kita turut melestarikan kebudayaan bangsa yang menjadi salah satu kekayaan nusantara.
BUDAYA BALI
Menyelami Adat dan Kebudayaan Masyarakat Bali
Dalam setiap bangsa dipastikan memiliki adat dan kebudayaannya masing-masing. Untuk itu, mereka memiliki kewajiban untuk melestarikan dan mengimplementasikan segala adat dan kebudayaannya tersebut secara sungguh-sungguh. Demikian halnya dengan adat dan kebudayaan yang ada di Pulau Dewata Bali yang hingga kinipun masih dipegang teguh secara konsisten oleh masyarakatnya.
Agama Bali
Pola Kehidupan Masyarakat
Pola Pemukiman
Selamat Berkunjung!
KEINDAHAN PANTAI LASIANA
Pantai Lasiana..
Pariwisata adalah suatu fenomena yang sangat kompleks untuk dijabarkan
menjadi suatu definisi yang dapat diterima secara universal karena memiliki keunggulan yang berkualitas. Berbagai persepsi pemahaman pariwisata
sebagai industri, sebagai aktivitas, atau sebagai suatu sistem. Adapun aspek yang mendasari pariwisata
sebagai sistem adalah lokasi keberadaan wisatawan, rute antara, dan daya tarik wisata. Termasuk di dalamnya adalah ketersediaan pengatur perjalanan, moda
transportasi serta fasilitas perlintasan antara negara, daya tarik, aktivitas
serta fasilitas wisata. Hubungan ketiga aspek tersebut, tidak terlepas dari
adanya keterkaitan dengan pelaku (pemerintah, swasta/ industri, masyarakat),
komponen yaitu pasar, perjalanan, tujuan, dan pemasaran, penyelenggaraan
(perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan) serta dari kelembagaan (organisasi
dan kebijakan).
Pariwisata tak bisa dilepaskan sebagai salah satu sektor pembangunan
yang menyeluruh. Itu sebabnya, penyelenggaraan pariwisata harus memperhatikan
prinsip partisipasi masyarakat, hak budaya lokal, aspek konservasi sumber daya,
pendidikan dan pelatihan, promosi, akuntabilitas, serta pemantauan dan
evaluasi. Kesiapan penyelenggaraan pariwisata berkelanjutan akan diketahui
apabila berbagai pertanyaan yang timbul terjawab dengan baik. Dalam konteks
pembangunan berkelanjutan, pariwisata harus dipandang sebagai suatu sistem.
Dalam sistem tersebut tercakup berbagai komponen yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi
meliputi: pasar, destinasi, perjalanan
dan pemasaran. Oleh karena itu perlu adanya sinergi
kebijakan yang mengatur penyelenggaraan pariwisata. Berkaitan dengan pembangunan yang berkelanjutan pariwisata memiliki keterikatan yang sangat unik karena mampu melibatkan berbagai sektor untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah pengembangan destinasi pariwisata, yang didalamnya terdapat atraksi wisata. Dan pantai Lasiana adalah salah satu contoh nyata dari atraksi wisata yang mempengaruhi proses pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kota Kupang sesuai dengan sistem pariwisata. Banyak hal yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Kupang untuk mengembangkan kawasan wisata ini sehingga layak disebut sebagai atraksi wisata.
Latar Belakang Pantai Lasiana
Sebagai Provinsi kepulauan, Nusa
Tenggara Timur menggantungkan potensi wisatanya kepada pantai-pantai indah yang
menghiasi hampir semua batas daerahnya. Salah satu pantai indah yang menjadi
andalan pariwisata provinsi ini adalah pantai Lasiana. Pantai Lasiana secara
fisik merupakan pantai berpasir putih sepanjang 2 kilometer, memanjang dari
timur ke barat sepanjang sisi utara pulau Flores, pulau utama provinsi ini.
Pantai yang cantik ini terletak di kecamatan Kupang Tengah sekitar 12 kilometer
dari ibukota provinsi NTT, Kota Kupang. Karena berada diantara kepulauan Nusa
Tenggara Timur di sepanjang laut flores dan Pulau Flores, Pantai Lasiana yang
berhadapan langsung dengan Laut Sawu memiliki ombak yang tenang, air yang
bening serta dasar pantai yang sepenuhnya pasir putih tanpa karang. Hal ini
membuat pantai Lasiana sangat cocok untuk berenang, berjemur, atau sekedar
dinikmati keindahannya. Di sepanjang pinggir pantai banyak terdapat pohon
tinggi dan berfungsi untuk menaungi bibir pantai. Ada sekitar 65 pohon kelapa
dan 230 pohon lontar tua yang hingga kini masih produktif yang berada di bibir
pantai. Pada hari biasa, kawasan pantai ini sepi dari pengunjung. Pantai Lasiana mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1970-an. Sejak Dinas Pariwisata NTT memoles dengan membangun berbagai fasilitas pada tahun 1986, Pantai Lasiana ramai dikunjungi turis asing. Pantai nan landai sekitar 3,5 hektar atau tepatnya 35.065 persegi ini, berudara sejuk karena dinaungi 65 pohon kelapa dan 230 pohon lontar tua yang hingga kini masih produktif. Pantainya berpasir putih halus, lautnya biru, airnya jernih dengan debur ombak yang bergulung-gulung kecil, tenang. Keindahan pantai ini bukan karena fasilitas buatan, tetapi lebih karena karakter alamnya. Pantai Lasiana mempunyai topografi menarik, pada bagian barat terdapat perbukitan, sehingga keseluruhan kawasan ini mempunyai variasi unik, yaitu perpaduan antara perbukitan dan pantai. Di sisi timur terdapat hutan mangrove (bakau) yang tumbuh rapat. Di dalamnya terdapat aneka satwa, mulai dari burung bangau di atas pepohonan maupun kepiting, ikan, udang, ular, dan sebagainya di dasar hutan. Demikian pula di ujung barat.
- Awal hingga pertengahan tahun 1980-an, Pantai Lasiana banyak dikunjungi turis asing dari Jerman, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.
- Mulai awal tahun 1990-an, perlahan-lahan hutan bakau semakin tipis dan akhirnya nyaris habis sama sekali di awal tahun 2000. Di sebelah timur dibabat oleh investor yang katanya ingin membangun hotel dan resort di situ.
- Sedangkan di sebelah barat digunduli ketika ada even duel meet moto-cross Indonesia-Australia pada tahun 1995.
- Seiring menipisnya mangrove, karang laut di ujung timur dan barat Pantai Lasiana pun perlahan ikut mati hingga akhirnya nyaris musnah. Karang laut mati akibat tertimbun lumpur yang langsung masuk laut karena vegetasi yang tadinya berfungsi sebagai saringan sudah tiada. Belum lagi penggalian karang laut untuk dijadikan kapur dan penambangan pasir di tepi pantai sekitar tahun 1980-an.
- Abrasi tak terhindarkan. Ratusan atau bahkan ribuan pohon kelapa yang sebelumnya memadati pinggiran pantai, perlahan habis karena tumbang dihantam ombak besar ketika badai.
- Terparah pada Desember 1990 hingga Januari 1991, dimana terjadi badai besar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ombak setinggi lebih dari 5 atau 6 meter bahkan mampu merobohkan “Batu Nona”. Ini adalah batu karang setinggi kira-kira 15 meter yang bentuknya menyerupai perempuan sedang berdiri sambil melambaikan tangan. Kini si “Nona” telah “tertidur” dan semakin terbenam, tertimbun pasir.
- Dalam masa sekitar 20 tahun, bibir pantai telah ‘merangsek’ hampir 500 meter ke daratan. Maka pantai yang indah dan sangat alami di era 70-80-an itu, kini menjadi pantai yang gersang seperti tak terawat.
- Rusaknya vegetasi dan karang laut itu berbanding lurus dengan semakin sedikitnya hasil tangkapan nelayan setempat. Nelayan tradisional dengan peralatan tangkap “bagan”, yang dulunya mampu menghasilkan berton-ton ikan hanya dalam semalam, kini kehilangan penghasilan. Mendapat satu ember ikan teri (kira-kira 30 kg) saja sudah terhitung banyak.
Namun karena
itu pula, Pemerintah Kota Kupang berusaha menyelamatkan pantai itu dengan membangun
tanggul-tanggul pemecah ombak. Sepanjang bibir pantai dibangun tanggul beton
setinggi kira-kira setengah meter. Sementara di ujung barat dibangun tanggul
pemecah ombak setinggi dua meter yang menjorok masuk ke laut, kira-kira
sepanjang 800 meter. Toh semua itu tak mengembalikan ‘wajah’ Pantai Lasiana
seperti sediakala. Karena keunggulan pantai itu di era 1970-an hingga 1980-an
terletak pada vegetasi dan indahnya karang di dasar laut.
Banyak fasilitas yang pernah dibangun pemerintah Provinsi NTT di sana.
Seperti kolam renang, home stay (semacam cottage), dan sebagainya. Namun
semuanya tak terurus dan dibiarkan terbengkalai hingga akhirnya rusak dengan
sendirinya. Pembangunan fasilitas itu seperti hanya untuk menghabiskan anggaran
saja. Tidak ada yang bisa dinikmati oleh wisatawan. Pantai
yang dahulunya sangat indah itu terus mengalami kemunduran. Seandainya
masyarakat bisa digerakkan untuk menumbuhkan kembali vegetasinya,
keindahan pantai itu pasti bisa kembali seperti sediakala. Akan tetapi, dalam kondisi yang sudah rusakpun, Pantai Lasiana masih menyimpan pesona. Permukaan pasirnya datar dengan kemiringan hanya sekitar 5-10 persen, sangat cocok untuk bermain sepakbola pantai. Pasirnya putih bersih dan bercahaya ketika tertimpa cahaya. Dasar lautnya berpasir, bukan lumpur, sebagaimana kebanyakan pantai di Pulau Timor. Sehingga airnya selalu jernih. Inilah yang membuat wisatawan paling suka mandi dan berenang di pantai ini. Menariknya, dari pantai ini, orang bisa menyaksikan sunrise sekaligus sunset. Jadi, indahnya matahari terbit dan terbenam bisa dinikmati sekaligus. Di tepi pantai masih terdapat ratusan pohon “tuak” alias pohon lontar berbaris tegak. Pohon-pohon ini secara rutin disadap untuk diambil niranya atau disebut “iris tuak” oleh orang Kupang. Aktivitas iris tuak oleh warga suku Rote, ini menjadi suguhan menarik, karena sekaligus sebagai “atraksi” pariwisata tanpa perlu agenda khusus yang menelan biaya. Turis bisa menikmati sedapnya nira lontar atau “tuak” dalam istilah orang Rote, yang baru disadap. Rasanya manis, asam, dan agak sepat. Apalagi nira yang baru disadap, warnanya agak merah dan rasanya sangat manis, seperti air gula. Hasil sadapan nira atau tuak itu dimasak di tungku tanah menggunakan periuk tanah. Hasilnya adalah gula lontar yang manis rasanya. Aktivitas ini bisa menjadi “jualan” menarik bagi turis asing sehingga kegiatan ini mampu dijadikan sebagai atraksi wisata yang hanya anda dapatkan dipantai Lasiana ini.
Oleh karena itu, Sesuai rencana pengembangan Pemkot
Kupang, Pantai Lasiana akan dijadikan Taman Budaya Flobamora, yakni sebutan
yang mengacu pada keseluruhan suku bangsa di dekat Pantai Lasiana, antara lain,
Flores, Sumba, Timor dan Alor. Banyak fasilitas yang pernah dibangun pemerintah Provinsi NTT di sana.
Seperti kolam renang, home stay (semacam cottage), dan sebagainya. Namun
semuanya tak terurus dan dibiarkan terbengkalai hingga akhirnya rusak dengan
sendirinya. Pembangunan fasilitas itu seperti hanya untuk menghabiskan anggaran
saja. Tidak ada yang bisa dinikmati oleh wisatawan. Padahal anggaran yang
dikucurkan mencapai ratusan juta atau mungkin miliaran rupiah.Sebagian besar pengelola atau yang
mengisi aktivitas di sekitar pantai ini adalah masyarakat sekitar yang menjual
berbagai macam hasil bumi dengan menggunakan peralatan sederhana. Salah satu
yang khas adalah jagung bakar, dimana jagung yang dijual ini ditanam sendiri
dikebun sekitar rumah dan setelah itu dijual di area pantai Lasiana.
Peran pemerintah kota setempat juga sangat dibutuhkan untuk melibatkan investor
untuk mengembangkan kawasan wisata yang potensial itu dengan berbagai tawaran
insentif. Misalnya tidak ditarik pajak dalam tempo 25 tahun dan memberikan
kemudahan dalam perizinan investasi. Potensi wisata itu tak pernah secara khusus dan serius “dijual”
kepada investor. Memang ada ‘sedikit’
persoalan pemilikan lahan dengan warga setempat. Namun sesungguhnya itu bukan masalah utamanya. Kegagalan
mengembangkan potensi wisata itu lebih karena ketidak mampuan pengelolaan serta
lemahnya mental kewirausahaan yang dimiliki pemerintah daerah, sejak
masih menjadi wilayah Pemerintah Kabupaten Kupang, hingga masuk wilayah
Pemerintah Kota Kupang. Oleh
karena itu, diperlukan suatu keberanian dari pemerintah untuk mulai
bergerak untuk mempertahankan keberlanjutan suatu kawasan wisata karena
dampaknya sangat besar terhadap kota Kupang.
Tinjauan Pustaka
Istilah
Pariwisata berasal dari bahasa Sanskerta, yang terdiri dari dua suku kata yaitu
“pari” dan “wisata”, yang berarti berulang-ulang atau berkali-kali. Dorongan
kepergian adalah karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi,
sosial, budaya, politik, kebudayaan, agama, kesejahteraan maupun kepentingan
lain seperti karena sekedar ingin tahu, menambah pengalaman ataupun untuk
tujuan pembelajaran. Menurut Oka
A. Yoeti dalam bukunya Pengantar Ilmu Pariwisata (1983:109) memberikan
pengertian pariwisata sebagai berikut :
"Pariwisata adalah suatu perjalanan yang
dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke
tempat yang lain, dan business atau yang dimaksud bukan untuk berusaha mencari
nafkah di tempat yang dikunjungi tetapi samata – mata untuk (menikmati
perjalanan tersebut guna bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan
yang beraneka ragam)".
Menurut Suwantoro (2001:3) merumuskan hakikat pariwisata adalah : “Suatu
proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain diluar
tempat tinggalnya". Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan
faktor – faktor yang harus ada dalam batasan pariwisata adalah sebagai berikut
:
·
Perjalanan untuk sementara waktu
·
Perjalanan itu dilakukan dari satu tempat
ke tempat yang lain.
·
Perjalanan itu, walaupun apapun bentuknya,
harus selalu dikaitkan dengan rekreasi.
·
Orang yang selalu mengadakan perjalanan
wisata tersebut tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya tetapi semata
– mata sebagi konsumen
Sebenarnya sulit untuk membuat perbedaan antara destinasi dan atraksi
wisata, karena seperti telah di kemukakan sebelumnya baik istilah destinasi
maupun atraksi sering dipahami sebagai satu hal yang sama. Bahkan dalam istilah
kepariwisataan di Indonesia dikenal istilah Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW). Hal tersebut dimungkinkan melalui pemahaman bahwa di suatu obyek
(destinasi) wisata pasti terdapat atraksi wisata, seperti halnya jika seorang
wisatawan mengunjungi pantai. Pantai adalah obyek dan di sana ia menikmati
atraksi berupa sunset atau deburan ombak dan lain sebagainya.
Sebagaimana Pendit (2002 :19) menjelaskan bahwa dalam dunia kepariwisataan
segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat disebut
“atraksi”, atau lazim pula dinamakan “objek wisata”. Atraksi atau obyek wisata,
baik yang hadir secara natural, maupun yang biasa berlangsung tiap harinya
serta yang khusus diadakan pada waktu tertentu, di Indonesia sangat banyak.
Suatu daerah wisata, di samping akomodasi akan disebut “Daerah Tujuan Wisata”
apabila daerah tersebut memiliki atraksi-atraksi yang memikat sebagai tujuan
kunjungan wisata. Atraksi-atraksi dimaksud antara lain : panorama keindahan
alam, seperti gunung, pantai, lembah, air terjun, danau, dan yang merupakan
hasil budaya manusia seperti monument, candi, bangunan klasik, peninggalan
purbakala, museum, mandala budaya, seni tari/music/kriya, upacara adat,
pertandingan.
Tetapi Sihite (2000 : 166) menyatakan bahwa atraksi wisata adalah sesuatu
yang dapat dilihat atau disaksikan melalui suatu pertunjukan (shows)
yang khusus diselenggarakan untuk para wisatawan. Jadi lanjutnya
atraksi dibedakan dari obyek wisata, karena obyek wisata dapat dilihat atau
disaksikan tanpa membayar. Selain itu dalam atraksi wisata untuk menyaksikannya
harus dipersiapkan terlebih dahulu, sedangkan obyek wisata dapat dilihat tanpa
dipersiapkan terlebih dahulu, seperti danau, pemandangan, pantai, gunung,
candi, monumen, dll. Namun jika wisatawan berkunjung ke Bali misalnya untuk
menyaksikan kesenian Barong, maka ia harus terlebih dahulu mencari informasi di
mana ia dapat menikmati pertunjukan tersebut, karena tidak selalu ada.
Analisis Situasional
Masalah
yang muncul harus dibuktikan dengan cara menanalisis situasional secara terperinci.
Hal ini perlu dilakukan untuk menganalisis profil dan data yang menjadi faktor – faktor penting yang menjadi
keuntungan dan yang menjadi kerugian. Ada dua faktor penting dalam menganalisa
suatu kondisi di kawasan wisata yang menjadi atraksi wisata ini, diantaranya :
1. Faktor Internal
Faktor
ini berasal dari dalam kawasan pantai ini sendiri, dimana hal tersebut dapat
menjadi kekuatan namun sebaliknya dapat menjadi kelemahan. Yang perlu
diperhatikan adalah potensi alam yang dimiliki berupa keindahan yang alami
mulai dari pesisir pantai hingga dasar laut sangatlah mendukung untuk
menjadikan pantai ini sebagai atraksi wisata bahkan mampu mendatangkan
keuntungan bagi perintah daerah.
2.
Faktor Eksternal
Faktor ini
dapat dikategorikan sebagai faktor luar yang mempengaruhi faktor internal. Yang
dimaksudkan adalah lingkungan sekitar, yaitu: Pemerintah daerah, masyarakat
sekitar dan lainnya. Kondisi pantai ini tergantung dari faktor eksternal, salah
satu contohnya adalah peran pemerintah dalam mengembangkan pantai Lasiana ini
menjadi pantai yang potensial, akan menjadi lebih baik ataukah menjadi lebih
buruk. Jika dapat melakukan pengelolaan dengan baik maka akan menjadi peluang
atau kesempatan yang menguntungkan bahkan akan sangat membantu devisa daerah,
namun jika pengelolaannya buruk maka akan menjadi ancaman bagi pihak luar
(swasta) untuk mengambil alih pantai tersebut.
Hasil
analisis SWOT yang telah diidentifikasi berdasarkan masing – masing faktor
dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi lingkungan dan menentukan isu
strategis yang akan dijadikan bahan pertimbangan untuk pengembangan kawasan
pantai tersebut. Untuk mengetahuinya dapat menggunakan matriks analisis SWOT
sebagai berikut :
Matriks Analisis SWOT
Kondisi Lingkungan Strategis
|
Kekuatan (S)
Pantai
Lasiana memiliki nilai dari segi keindahan alam, letak geografis, ekologi dan aktivitas yang dapat dilakukan,
sangat potensial untuk dijadikan atraksi wisata alam sekalipun kondisi dan
fasilitas mengalami penurunan dan kerusakan.
Perlindungan
hukum pemerintahan menjadi kekuatan untuk bertahan.
|
Kelemahan (W)
Peranan pemerintah
dalam mengembangkan Pantai Lasiana menjadi atraksi wisata tidak sangat lemah
dan tidak ada ketegasan. Sehingga berdampak kepada kesadaran dan perilaku
masyarakat Fasilitas dan tatanan kawasan yang terbengkalai menyebabkan nilai
kualitas dan kuantitas menurun.
|
Peluang
(O)
Mengembangkan
atraksi wisata dengan bantuan investor dan tetap terkontrol, setiap fasilitas
yang ada diperbaiki dan difungsikan kembali, memperbaiki hutan mangrove yang
rusak, serta melibatkan masyarakat untuk mempromosikan pantai sebagai atraksi
wisata andalan dan berpotensi.
|
Strategi S – O
§ Pemeliharaan dan pengawasan ekosistem pantai
dengan konsisten.
§ Pengembangan sumber daya alam menjadi
atraksi wisata berkelanjutan dengan bantuan modal dari investor.
§ Pengembangan sarana transportasi, infrastruktur
dan fasilitas penunjang.
|
Strategi
W – O
§
Pembangunan
sarana dan prasarana pendukung di
kawasan pantai.
§
Peningkatan
kualitas sumberdaya manusia.
§
Pengembangan
dan penyadaran lingkungan kepada masyarakat.
§
Mempromosikan
kawasan wisata pantai secara langsung (teknologi) dan tidak langsung
(masyarakat)
|
Ancaman
(T)
Terjadi
ancaman kerusakan lingkungan dari luar. Pengendalian oleh investor tidak bertanggungjawab dapat
menimbulkan persaingan, memicu tindak kriminal dan sabotase dalam pemerintah.
|
Strategi S –T
§
Memanfaatkan
potensi sumberdaya alam secara konsisten.
§
Penataan kawasan
pantai sesuai dengan tata ruang wilayah dan hukum yang berlaku.
§
Menetapkan
investor yang tepat dalam pengembangan atraksi wisata yang ramah lingkungan.
|
Strategi W – T
§
Peningkatan
kualitas dan peranan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata.
§
Menyadarkan
masyarakat tentang pentingnya nilai etika dan estetika dalam suatu kawasan
wisata.
|
Risiko
1. Risiko Operasional (SDM dan sistem)
|
- Pemerintah mempertahankan dan mempertaruhkan citra kota Kupang sebagai jaminan atas pengembangan pariwisata yang telah dilakukan.
- Pantai Lasiana dapat dikenal sebagai kawasan wisata yang memiliki keunggulan kompetitif.
Langganan:
Postingan (Atom)

